2 December, 2022, 8:35 pm

Artikel

Kenalan dengan Diet Mediterania, Diet yang Konon Dianggap Paling Sehat.

Apa itu Diet Mediterania
 
Diet Mediterania adalah pola makan yang dibuat berdasarkan konsumsi berbagai makanan tradisional dari negara Italia dan Yunani yang dikenal sejak tahun 1960-an. Pola makan ini mengutamakan bahan makanan yang bersumber dari tumbuhan yang kaya akan karbohidrat kompleks, vitamin, mineral, serta kandungan antioksidan.
 
Berbagai sumber protein dan lemak seperti daging merah, ikan, daging putih (poultry) dan telur juga termasuk dalam pola konsumsi Mediterania, hanya saja dikonsumsi dengan frekuensi yang lebih sedikit.
 
Diet Mediterania dikenal sebagai salah satu pola diet yang paling sehat dan populer di kalangan pelaku diet karena fleksibel, kaya akan makanan sehat dan lezat, dan penuh dengan manfaat kesehatan.
 
 
Manfaat Diet Mediterania
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa diet Mediterania telah dikaitkan dengan beberapa manfaat kesehatan, diantaranya:

Membantu Menurunkan Berat Badan

Diet Mediterania yang menekankan asupan kaya protein, serat, dan lemak sehat terbukti bermanfaat untuk menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan ideal. Selain itu, asupan makanan yang banyak dikonsumsi pada diet Mediterania umumnya juga mengandung rendah kalori sehingga baik untuk mengontrol berat badan.

Meningkatkan Kesehatan Jantung

Jika Anda sedang mencari pola makan yang baik untuk kesehatan jantung, diet Mediterania adalah pilihan tepat. Orang yang rutin mengikuti diet Mediterania terbukti memiliki risiko lebih kecil untuk terkena penyakit jantung. Hal ini karena pola makan Mediterania dapat menekan kadar kolesterol jahat (LDL) dan meningkatkan kolesterol baik (HDL) di dalam tubuh. Hal ini berkat pola makan Mediterania yang menekankan konsumsi serat, protein, antioksidan, dan lemak sehatt omega-3.

Mengurangi Resiko Stroke

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang melakukan diet Mediterania memiliki kemungkinan lebih kecil untuk terkena stroke. Efek ini diduga karena diet Mediterania dapat menurunkan kadar kolesterol dan menambah asupan antioksidan.

Mencegah Diabetes Melitus Tipe 2
 
Diet Mediterania menekankan orang yang menjalaninya untuk banyak mengonsumsi buah, sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, dan lemak sehat. Asupan makanan tersebut banyak mengandung serat, karbohidrat kompleks, dan memiliki indeks glikemik yang rendah, sehingga bermanfaat untuk menjaga kadar gula darah tetap stabil. Efek ini baik untuk mencegah diabetes tipe 2 dan membantu mengontrol kadar gula darah pada penderita diabetes.
 
Mencegah Penyakit Alzheimer
 
Berbagai riset kesehatan telah mengungkapkan bahwa pola makan Mediterania dapat mengurangi risiko terjadinya penurunan daya ingat dan kemampuan berpikir seiring bertambahnya usia, sehingga terhindar dari penyakit Alzheimer. Hal tersebut berkat makanan bernutrisi tinggi dan kaya antioksidan pada diet Mediterania yang dapat membantu menjaga fungsi dan kesehatan otak.
 
Mengurangi Peradangan
 
Salah satu manfaat diet Mediterania yang sudah terbukti adalah kemampuannya dalam mengurangi peradangan di dalam tubuh. Diet ini bermanfaat untuk meringankan gejala penyakit peradangan, seperti rheumatoid arthritis. Penyakit ini disebabkan oleh gangguan autoimun di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sendi, sehingga menimbulkan rasa sakit serta bengkak di persendian.
 
Selain manfaat di atas, diet Mediterania juga dipercaya dapat menurunkan risiko terjadinya kanker dan depresi. Namun, manfaat diet mediterania untuk mencegah atau mengobati kedua kondisi ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
 
Jenis Makanan
Pola konsumsi Mediterania dapat menggunakan berbagai sumber makanan alami, pembatasan konsumsi hanya berdasarkan frekuensi dalam beberapa waktu dan pemilihan sumber nutrisi yang lebih sehat.
 
Berikut adalah beberapa makanan yang dapat Anda nikmati sebagai bagian dari diet Mediterania:
  • Buah-buahan: apel, jeruk, stroberi, kiwi, melon, blueberry, pir, persik, aprikot
  • Sayuran: bayam, arugula, brokoli, kembang kol, bawang, zucchini, asparagus, kangkung, kentang
  • Kacang-kacangan: buncis, lentil, buncis, kacang tanah
  • Biji-bijian utuh: quinoa, couscous, millet, oat, beras merah, soba, pasta gandum utuh, farro
  • Kacang-kacangan dan biji-bijian: almond, pistachio, walnut, biji chia, biji rami, hazelnut, kacang macadamia, biji bunga matahari
  • Daging unggas: ayam, kalkun, bebek
  • Makanan laut: salmon, tuna, mackerel, teri, sarden, kerang
  • Telur: kuning telur dan putih telur
  • Susu: keju, yogurt, susu
  • Lemak sehat: minyak zaitun, alpukat, zaitun, minyak alpukat
  • Rempah-rempah: basil, oregano, thyme, rosemary, merica, kunyit, bawang putih, kayu manis, ketumbar
  • Minuman: air, kopi, teh, wine (1–2 gelas per hari)
 
Berikut adalah beberapa makanan yang harus Anda batasi atau hindari sebagai bagian dari diet Mediterania:
  • Daging olahan: bacon, salami, sosis, hot dog
  • Biji-bijian olahan: roti putih, kerupuk, biskuit, pasta putih, tortilla tepung, nasi putih
  • Minuman manis: jus, soda, minuman energi, minuman olahraga
  • Minyak olahan: minyak sayur, minyak kedelai, minyak canola, minyak jagung, minyak safflower
  • Makanan olahan: makanan cepat saji, keripik, makanan ringan, popcorn microwave, pretzel
  • Gula tambahan: gula meja, es krim, permen, kue kering, makanan yang dipanggang, es krim

Kesimpulannya, diet Mediterania membebaskan Anda untuk mengonsumsi berbagai jenis makanan. Namun, Anda perlu mengontrol porsinya dan mengutamakan asupan buah dan sayur, serta mengimbanginya dengan melakukan aktivitas fisik.

Mengikuti diet Mediterania yang sehat tidak hanya dapat membantu meningkatkan penurunan berat badan tetapi juga meningkatkan kesehatan jantung, mengurangi peradangan, dan meningkatkan kontrol gula darah yang lebih baik.

Namun, untuk memastikan apakah diet Mediterania cocok bagi Anda, tidak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi sebelum menjalani diet ini.

Sumber:

Healthline. Diakses 2022. Mediterranean Diet Review: Does It Work for Weight Loss?

 

"Apakah Orang Dewasa Membutuhkan Vaksin?"

Vaksinasi bukan hanya untuk anak-anak saja. Perlindungan dari beberapa vaksin pada masa kanak-kanak dapat hilang seiring waktu. Anda mungkin juga berisiko terkena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin karena usia, pekerjaan, gaya hidup, perjalanan, atau kondisi kesehatan Anda. Sayangnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi pada orang dewasa masih rendah. Padahal pemberian vaksin pada orang dewasa memiliki manfaat yang sama dengan pemberian vaksin pada anak-anak.
 
Dengan menerima vaksin, Anda tidak saja melindungi diri sendiri dari penularan penyakit, tetapi juga ikut memutus rantai penyebarannya dan menghentikan wabah penyakit yang terjadi di suatu daerah.
 
Melansir dari Centers for Disease Control and Prevention, berikut jenis-jenis vaksin yang dibutuhkan orang dewasa:
 
1. Influenza
Risiko terkena flu dapat berkurang sekitar setengahnya setelah seseorang mendapatkan vaksin influenza. Bila kamu masih bisa terserang flu setelah mendapatkan vaksin, kemungkinan berkembangnya gejala yang berat akan semakin kecil, dan flu dapat sembuh dalam waktu singkat.
Semua orang orang dewasa perlu mendapatkan vaksin flu, khususnya ibu hamil, orang dengan masalah kesehatan jangka panjang, dan orang di atas 65 tahun. Penting untuk mendapatkan suntikan setiap tahunnya karena virus influenza selalu berevolusi. 
 
2. Tdap
Pemberian vaksin Tdap berfungsi untuk mencegah infeksi tetanus, difteri, dan, pertusis (batuk rejan) yang dapat menyebabkan penyakit serius sampai kematian. Semenjak vaksin ini diperkenalkan, kasus tetanus dan difteri telah turun 99% dan batuk rejan telah turun hingga 80%.
Bukan cuma anak-anak saja, orang dewasa juga perlu mendapatkan booster Tdap setiap 10 tahun. Vaksin ini bahkan diwajibkan untuk orang-orang yang mengalami masalah dengan sistem kekebalan tubuhnya. 
 
3. Hepatitis A dan B
Vaksin ini juga wajib dilakukan setelah dewasa guna mencegah infeksi virus Hepatitis A dan B yang menyebabkan penyakit hati. Pemberian vaksin hepatitis A umumnya diberikan sebanyak dua dosis, dengan jarak 6 bulan. Sementara, vaksin hepatitis B membutuhkan tiga suntikan. Jarak pemberian dosis Hepatitis B pertama dan kedua adalah sebulan. Kemudian, dosis ketiganya diberikan setidaknya dua bulan setelah mendapatkan dosis kedua.
 
4. HPV
Infeksi human papillomavirus (HPV) berisiko menyebabkan menyebabkan kanker serviks, vulva, dan vagina pada wanita serta kanker penis pada pria. Virus ini juga dapat menyebabkan kanker dubur, kanker tenggorokan, kanker mulut dan kutil kelamin. Vaksin HPV direkomendasikan untuk anak laki-laki dan perempuan pada usia 11 atau 12 tahun.
Namun, wanita yang berusia di bawah 26 tahun dan pria yang belum berusia 21 tahun masih bisa mendapatkannya. Vaksin HPV tersedia dalam tiga dosis. Dokter biasanya akan memberikan dosis kedua selang 1-2 bulan setelah suntikan pertama. Dosis ketiganya akan dilanjutkan setelah 6 bulan.
 
5. Pneumokokus
Infeksi bakteri pneumokokus dapat menyebabkan pneumonia, meningitis, infeksi darah, dan kematian. Ada dua vaksin untuk mencegahnya, yaitu PCV dan PPSV. Vaksin PCV dianjurkan untuk anak di bawah 2 tahun, smentara PPSV lebih dianjurkan untuk orang yang berusia 65 tahun ke atas dengan 1 dosis seumur hidup.
 
6. Measles and Rubella (MR)
Vaksin MR adalah pengganti vaksin MMR yang saat ini sudah tidak tersedia di fasilitas kesehatan masyarakat. Kini, program vaksin MR menjadi prioritas pemerintah Indonesia sebagai upaya mengendalikan penyakit menular Campak dan Rubella. Meskipun imunisasi MMR sudah di berikan saat masa kana-kanak, vaksin MR tetapi diperlukan untuk memastikan kekebalan penuh terhadap penyakit campak dan Rubella. 
Pemberian vaksin MR wajib untuk semua anak usia 9 bulan sampai dengan kurang dari 15 tahun. Ibu hamil juga wajib mendapatkan vaksin MR sebelum hamil untuk mencegah keguguran dan cacat pada bayi. 
 
7. BCG
Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Vaksin BCG dapat memberi kekebalan tubuh terhadap bakteri mematikan tersebut. Itu sebabnya, vaksin BCG direkomendasikan untuk bayi, anak-anak, dan orang dewasa berusia 16–35 tahun, terutama yang berisiko tinggi terpapar TB. Orang dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin ini sebelumnya juga wajib melakukan vaksin BCG.
 
8. Cacar Air
Varicella zoster merupakan virus penyebab cacar air. Kondisi ini bisa dicegah dengan melakukan vaksin cacar air. Vaksin cacar air biasanya diberikan sebanyak 2 dosis dengan jarak 4–8 minggu. Sebelum melakukan vaksin cacar air, pastikan kamu belum pernah mengidap cacar air dan tidak mengidap penyakit tertentu, seperti kanker atau HIV.
 
9. Herpes zoster
Virus herpes zoster adalah penyebab cacar api atau herpes zoster. Herpes zoster ditandai dengan munculnya bintil yang mirip seperti cacar air. Area di sekitar bintil ini dapat membengkak dan menghasilkan luka lepuh.
Nah, bintil yang timbul ini bisa menimbulkan sensasi gatal, terbakar, sakit kepala sampai kelemahan. Vaksin herpes zoster dapat mencegah herpes zoster sebanyak 50 persen. Pemberian vaksin herpes zoster hanya dilakukan dengan satu dosis saja. 
 
10. COVID-19
Semenjak virus COVID-19 merebak, pemerintah Indonesia mewajibkan semua orang dewasa untuk mendapatkan vaksin COVID-19 untuk memutus mata rantai penularan COVID-19. Vaksin COVID-19 untuk dewasa diberikan sebanyak 2 kali dengan jumlah 0,5 mL per dosis. Pemberian vaksin kedua berjarak 2 minggu hingga 3 bulan dari vaksin pertama, tergantung jenis vaksin yang digunakan. 
 
Vaksinasi tidak hanya berperan penting dalam mencegah penularan penyakit pada anak-anak, tapi juga orang dewasa. Maka dari itu, pastikan Anda mengikuti vaksinasi dewasa sesuai jadwal.
 
 
Referensi:
Halodoc. Diakses pada 2022. 10 Jenis Vaksin yang DIbutuhkan Orang Dewasa.
Web MD. Diakses pada 2022. What Is The Vaccine Schedule for Adults?
Centers for Disease Control and Prevention. Diakses pada 2022. Recommended Adult Immunization Schedule for ages 19 years or older, United States, 2022.
Immunize.org. Diakses pada 2022. Vaccinations for Adults.